“Tinggal satu gerbangnya, tetapi, aku merdeka untuk membiarkannya ditabiri rahasia. Tetapi sejarah adalah hujan amat deras, sehingga kemerdekaanku  adalah berjuang menemukan sela-sela kosong diantara titik-titik air hujan.Sudah pasti tak bisa kuhindari untuk ‘basah kuyup’ oleh hujan deras silang sengkarut Indonesia.Maka jalannya adalah “topo ngrame” : kutelusuri lorong sepi hidupku sendiri”

—- Tinggal Satu Gerbang, ditulis di Buku Kiai Hologram, karya Emha Ainun Nadjib

11 Mei 2017, masih teringat jelas pukul 00.00 acara dimulai. Kang Arief mempersiapkan mikrofon dan perlengkapan untuk perhelatan. Lalu duduklah mas Teguh Santoso dan mas Harianto untuk memulai segala sesuatunya. Tuan rumah, Kyai Ahmad Muzzamil berkenan membuka. Segala curahan doa dan harapan dilimpahkan kepada Allah, tengah malam itu. Setelah beragam diskusi, maka dibuatlah keputusan bersama untuk membuat sebuah gerakan sosial, GERBANG. Gerakan Anak Bangsa.

Gerakan ini berawal dari keresahan, kegelisahan kami yang datang, atas panasnya situasi waktu itu. Juga tentu tak luput bahwa Gerakan ini adalah bentuk cinta kami terhadap Nabi, terhadap guru-guru kami, terkhusus untuk Maulana Muhammad Ainun Nadjib. Dari beliau-beliau ini mutiara ilmu, khazanah, pemetaan situasi, hingga obat ketentraman dikala hati susah mengalir deras seperti air hujan. Maka kami merasa waktu itulah harus memulai sesuatu.

Gerakan penyadaran dimulai, segala bentuk komunikasi sosial, agitasi dan pencerahan – pencerahan terkait beragam kondisi dibabar habis oleh Mas Harianto. Banyak hal yang sebenarnya membungkus kita untuk terus menerus terlelap, banyak pula kondisi zaman yang membuat kita lalai, bahkan abai terhadap kondisi sosial kemasyarakatan. Maka lewat GERBANG ini menjadi ruang baru untuk menyemai benih-benih baru manusia agar terus bermanfaat.

FKG, atau Forum Konsolidasi Gerakan digelar dibeberapa daerah, berkeliling hampir tiap hari dari kabupaten ke kabupaten lain, menemui banyak orang, menemui banyak pihak, menjalin silaturahmi, srawung, juga memohon agar perkenanan Tuhan menyertai langkah kami. Entah berapa bulan, akhirnya Jawa dari ujung barat Sukabumi sampai ke Banyuwangi dikunjungi.

Tak berhenti di forum-forum diskusi, dan mimbar agitasi, GERBANG terus mengalir kepada implementasi praktis terhadap kemaslahatan umat. Kami kemudian menamainya SW. Sekolah Warga.

Sekolah Warga adalah konsep ideal dari sebuah Pendidikan yang melibatkan banyak pihak, ruang serta tak berhenti pada formalitas-formalitas sekolah pada umumnya. Memangkas ruang elit sekolah, dimana pendidikan harus membebaskan, pendidikan harus dekat dengan sekeliling, pendidikan tidak boleh memunculkan elit baru yang justru mencuci tangan dari masalah sehari-hari.

Di Sekolah Warga inipula kita memakai konsep siapapun boleh menjadi murid, siapapun boleh menjadi guru, dan setiap tempat adalah sekolah. Persis seperti apa yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara. Karena semua orang berhak atas pendidikan. Maka, keterlibatan semua orang ditunggu selalu di Sekolah Warga.

Setidaknya sudah ada 30-an Sekolah Warga tersebar di Jawa, baik kelas personal maupun komunal, tetapi harus tetap pada rel gerakan, Sekolah ini tidak boleh membebani siapapun, harus dengan ikhlas dijalankan, menjalankan, karena itu lambaran SW. Persaudaraan dan Cinta Kasih.

Hampir semua Kelas Sekolah Warga digratiskan untuk siapapun, untuk semua usia, dan lintas disiplin ilmu. Biasanya ilmu-ilmu praktis seperti bonsai, cukur rambut, setir mobil, sablon, desain, pijat, las-listrik dsb. Kelas ini berbayar paseduluran, itu saja, karena dibalik persaudaraan pasti ada kebaikan. Termasuk rejeki dan sebagainya, kami terus menerus mempercayai itu.

Tidak hanya berhenti disitu, GERBANG juga memberi ruang bagi kawan-kawan didalamnya untuk terus Mandiri. Karena dasarnya prinsip gotong-royong adalah kemandirian. Disinilah nanti muncul Industri Warga, Bengkel Riset Warga, serta Lumbung Warga. Ketiga elemen inilah nanti yang akan menunjang segala kegiatan Sekolah Warga, dibalik menyemai kebaikan – kebaikan, kita juga terus menerus mengusahakan kesejahteraan kawan-kawan didalam gerakan. Teman-teman mulai hari ini sudah bisa mengakses http://industriwarga.com, sebagai toko online gerakan, yang menjual semua produksi dari kawan-kawan. Harapannya ini bisa menjadi lingkar pemertahaan ekonomi mikro, supaya teman-teman tak hanya bermanfaat tapi juga merasakan manfaat secara tidak langsung dari Gerakan.

Di masa pandemi ini GERBANG juga ber-itjihad untuk sebisa mungkin mengambil peran dalam penyelesaian wabah. Secara personal saya banyak menerima cerita kawan-kawan yang terlibat total mengabdi kepada kampung mereka masing-masing, kepada desa, organisasi diluar gerakan dan instansi-instansi.

Secara komunal Gerakan, setidaknya GERBANG telah meluncurkan sebuah produk untuk menaikkan imun tubuh, karena kekebalan tubuh adalah benteng rentan tidaknya terkena wabah. Selain itu kami juga mengusahakan Lumbung Warga sebagai persiapan jangka panjang jika wabah ini terus berlanjut maka setidaknya kawan-kawan kami tidak mati kelaparan, terutama yang menjadi urban-survivor.

Akhirnya selamat tri-warsa GERBANG, gerakan Makmuman Lillahitaala.
Semoga persaudaraan ini terus berlanjut, sampai kapanpun, sampai semua dipanggil untuk menuntaskan pekerjaannya didunia.

Semua bukan untuk kita, kita-pun sebenarnya tidak ada,
Dan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang menjadi pengabdi, abdan-abdiya, semoga kecintaan kita ini terus menjadi jalan keberkahan, jalan iman, jalan pedang untuk terus melawan yang bathil, jalan rakaat panjang untuk merapatkan shaf, dan bertarung kepada kewarasan, kewaspadaan, pada ketangguhan menjadi keluarga, pada kewajaran sebagai manusia, untuk tetap mawas, untuk tetap jernih.

Semoga Cinta Tuhan, Kanjeng Nabi dan semua orang suci mampu menjadi aliran air dan hutan teduh dalam menyikapi segala macam kerumitan hidup.

Berkah-berkah ke semua mahkluk,

Yogyakarta, 11 Mei 2020
Indra Agusta

Triwarsa Makmuman Lillahitaala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *