Cilacap 4 Januari 2020 – Pada Sabtu pagi Dulur-dulur perwakilan dari Kroya, Kemranjen, Kali Sabuk, Njojok dan Cilacap Kota berkumpul di Rumah Budaya Paradesa Kroya untuk melakukan rembug tentang Lumbung Warga.

Acara dibuka oleh Kang Yasin dengan pembacaan Sholawat Nariyah untuk Rasullah SAW. Kemudian Kang Yasin menegaskan bahwa Lumbung Warga adalah salah satu pilar dari Warga Mandoro bersama dua pilar lainnya yaitu Sekolah Warga dan Industri Warga. Ketiganya berproses siklikal menguatkan satu sama lain.

Lumbung Warga berfokus tentang bagaimana mengelola Ketahanan Pangan dalam lingkaran komunitas atau jamaah untuk mencapai Swasembada Pangan. Ide dasarnya adalah pemenuhan kebutuhan pangan yang selama ini ditanggung oleh individu, dialihkan dengan ditanggung secara berjamaah. Apakah ini hanya menjadi wacana angan angan
atau bisa terealisasi ? Untuk menjawab kegelisahan itu, Focus Grup Discussion pun dimulai.

Penyederhanaan Kompleksitas.
Kompleksitas dalam hidup manusia modern saat ini sangat rumit, tetapi jika dirunut pada akarnya, kompleksitas itu hanya akibat dari tindakan manusia dalam melakukan pemenuhan terhadap kebutuhan (Needs) di dunia, baik itu kebutuhan spiritual maupun material. Akan tetapi, terjadi pergeseran dari Needs menjadi Wants, dari kebutuhan atas pemenuhan dasar hidup di dunia menjadi keinginan pemenuhan nafsu yang tanpa batas. Dari situlah muncul manusia-manusia yang ingin melakukan penguasaan atas manusia lain. Maka muncullah manusia 4 % yang menguasai 96 % manusia lainnya. Mereka membuat sistem yang menjerat manusia lainnya dan berusaha sekuat tenaga supaya sistem itu terus bertahan abadi. Muncul peradaban Piramida.

Ciri utama sistem itu adalah Monopoli, baik secara terang-terangan mapun samar. Monopoli itu terjadi di segala bidang, termasuk dalam pemenuhan atas pangan. “Kuasai pangan,maka kau akan menguasai rakyat”, itu adalah semboyannya. Kartel-kartel menguasai jalur hulu hilir perdagangan Pangan sehingga bisa menentukan harga pasar semua maunya semudah jentikan Jari Tanos. Tak hanya harga yang dimainkan, tapi kualitas produknya sering dipermainkan.

Akibatnya siapa lagi kalau bukan rakyat, mulai dari petani sebagai produsennya hingga masyarakat umum sebagai konsumennya. Bagaimana bisa berpikir tentang cara mengkhalifahi dunia jika untuk urusan perut saja masih terseok seok dalam pemenuhannya?

Lalu bagaimana keluar dari jeratan itu? Caranya dengan menjadi manusia yang berdaulat. Lalu berdaulat yang seperti apa? Sederhananya, selama Needs kita terpenuhi maka kita sudah berdaulat. Needs bukan Wants. Karena Needs itu terukur dan jelas, sementara Wants tak ada batasnya. Selama kita masih mengejar keinginan maka kita tidak akan bisa berdaulat dan akan terus terjerat karena untuk pemenuhan Wants-nya. Lumbung Warga diharapkan bisa melakukan breakthrough, menerobos untuk pemenuhan Needs untuk membentuk manusia yang berdaulat, kemudian secara alamiah akan membentuk Warga yang berdaulat, Warga Mandoro.

Kiblat yang tertukar
Ka’bah adalah Kiblat orang Islam, Ka’bah tidak hanya sebagai Simbol pemersatu, tetapi ada semacam clue terkait bagaimana cara manusia untuk mengkhaliahi dunia. Dari bentuknya, Ka’bah berbentuk Kubus, artinya ini adalah simbol persamaan, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, tidak ada yang menguasai dan dikuasai, simbol keadilan bersama, tiji tibeh mukti siji mukti kabeh. Akan tetapi, pada penerapan kehidupan, manusia lebih memilih menggunakan sistem Piramida yang sarat atas penindasan dan ketidakadilan. Kita memiliki raga Ka’bah tapi tidak ruh nya. Mungkin itu mengapa Kemenangan dan Kebarokahan belum mau berpihak kepada kita.

Untuk itu upaya terobosan yang dilakukan adalah menggeser mindset, dari berpikir Piramida menjadi berpikir Kubus atau Ka’bah. Bukan lagi berpikir Kolonial tapi millenial. Bukan Monopoli tapi Kolaborasi. We don’t fix problems but fix our thinking, then problems fix themselves.

Aplikasi Lumbung Warga
Setelah memahami hakikat Needs dan Wants, Pyramid Minded and Cube Minded, tiba saatnya untuk mensyariatinya. Dari hasil rembug, dikerucutkan untuk memilih dua lahan garap. Pemenuhan kebutuhan atas beras dan sayur, serta kebutuhan akan rekreasi. Sistem kolaborasi diterapkan dengan memaksimalkan potensi pertanian yang sudah ada di

Kroya. Karena suatu terobosan tidak melulu harus membuat sesuatu yang baru, bisa juga dengan memaksimalkan yang sudah ada, karena jika fokus dengan membuat produk yang baru maka waktu dan biaya akan habis digunakan untuk riset dan bertengkar di ranah wacana, akhirnya prosesnya pun jalan di tempat dan nirhasil. Untuk itu kami tidak memilih untuk membeli atau menyewa sawah untuk kemudian ditanami sendiri atau memperkerjakan orang untuk pengolahan lahan. Kami memilih untuk langsung berkolaborasi dengan Petani di Kroya. Ini dipilih karena lebih minim resiko dan tidak mengeluarkan banyak biaya untuk proses start up nya serta bisa turut serta membantu memastikan produk panen Petani dibeli dengan harga yang layak supaya tidak terjadi lagi harga panen petani jatuh karena permainan kartel.

Kualitas produk pun bisa terjaga karena kami akan mulai terlibat dari proses penggilingan, pengepakan, penyimpanan dan distribusi, sehingga mutu produk benar-benar terjaga, tidak ada campuran, pemutih, pengawet, pewangi. Sistem pemasarannya, kami buat dengat sistem closed market, kolaborasi antar sesama anggota komunitas, ini untuk menjaga supaya berapapun jumlah produk yang tersedia, bisa sold out maksimal dalam waktu 1 bulan. Selain itu, sistem closed market mempermudah untuk merencanakan upaya scale up sehingga jangkauan petani yang bergabung lebih banyak serta jangkauan pasar yang meluas. Semakin besar anggota komunitas yang bergabung, semakin besar pula profit yang didapat.

Kami juga bersepakat bahwa nett profit yang didapat, seluruhnya akan digunakan untuk pengembangan sistem hulu dan hilir untuk menunjang Ketahanan Pangan Warga Mandoro di Cilacap. Dan sebagai tujuan jangka pendek, kami akan mengupayakan 333 orang Pejuang Badar untuk menjalankan sistem ini di Cilacap. Harapannya dalam 3 bulan berjalan bisa jumlahnya meningkat 5 kali lipat dan seterusnya. Dengan berbekal hidup dalam komunitas dan bersama-sama menghidupi komunitas untuk mencapai kehidupan yang adil dan beradab.

Sementara itu, kebutuhan akan rekreasi juga akan kami eksplorasi, utamanya wisata bahari. Hal ini karena supaya konsep Bawana Sekar atau Nyegara Giri atau Kujang Keris bisa terwujud. Generasi Millenial saat ini adalah generasi yang gamang, nanggung. Mereka adalah generasi ambyar, patah hati, yang lahir dalam kondisi dunia yang penuh dengan ketidakadilan. Mereka tau ketidakadilan terjadi, tapi tak bisa berbuat banyak untuk melaannya.

Ingin melawan tapi senjata permodalan masih dikuasai Kaum Kolonial, ingin terus melawan tapi takut disikat, ingin ikut arus takut tenggelam di dalam sungai yang kotor, akhirnya mencari pelarian untuk menghibur diri, sekedar mencari waktu jeda untuk melepaskan diri dari tekanan hidup. Semboyan mereka Work Life Balance, sehingga muncul fenomena kebutuhan baru, Leisure Experience.

Maka tempat rekreasi perlu mendapatkan perhatian. Cilacap mempunyai
potensi wisata bahari yang indah, mulai dari alam, view, budaya dan kulinernya utamanya di wilayah Njojok, Kampung Laut dan Nusakambangan. Pola kolaborasi yang seperti apa, akan dirembug kembali ketika pertemuan berikutnya sambil camping di lokasi tersebut.

Financial Angel
Ketika konsep dan rencana strategi Lumbung Warga di Cilacap sudah siap, hakikat dan syariatnya sudah diformulasikan maka itu hanya bisa berjalan dengan dukungan financial. Beruntungnya ada seseorang yang bersedia menjadi pioner untuk membiayai Para Pejuang Badar. Inilah Financial Angel, malaikat penolong Financial kami.

Setelah semuanya siap, tantangan berikutnya adalah menjaga agar sistem ini menjadi jalan tarekat yang istikomah sehingga semua anggota komunitas mampu mendapatkan makriat tentang keberhasilan swasembada pangan di dalam lingkungan komunitas ini. Sebuah kemenangan-kemenangan kecil yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang terus berbuat kebaikan. Harapannya, dengan terujinya keberhasilan Lumbung Warga di Cilacap, semoga semakin banyak Financial Angel yang berdatangan, Malaikat yang membawa niat untuk menyebarkan kebaikan di dunia.

Berbicara tentang Lumbung Warga maupun Industri Warga tidak berarti hanya mengurusi urusan perut. Tapi ini adalah bagian persiapan urusan logistik dalam Perang Akhir Jaman. Lawan kita bukan bangsa, agama, ras lain tetapi siapapun manusia yang menerapkan sistem yang menyebabkan ketidakadilan. Bakda duhur, kegiatan rembug berakhir, semua Sedulur yang hadir pulang dengan membawa optimisme dalam hati dan pikirannya masing-masing.

Rembug Lumbung Warga GERBANG Cilacap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *