Gambar ilustrasi ini terispirasi dari suatu kisah yang tertulis di Candi Cetho Karanganyar tentang Dewa Indra yang mencari Air Kehidupan Tirta Amerta dan kaitannya dengan Gunung Mandoro/Mandaragiri. Kisah itu kita dalami dan kemudian kita kejentawahkan dalam gambar beserta pengamatan ide dan gagasan. Sebelumnya matur nuwun sanget kepada kang Dwiki&Gani yang dengan tangan dinginnya bisa melahirkan gambar yang super duper keren ini dan kang Den Apri yang selalu menjaga nilai-nilai natural tentang kasusastraan leluhur kita supaya tetap terjaga abadi.

Seiring dengan terbukanya cakrawala sejarah dan peneropongan-peneropongan terhadap cagar budaya peradaban leluhur kita, kita menyadari bahwasanya berjalannya sejarah itu tidaklah linear. Tidak mengalir begitu saja dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Akan tetapi pola sejarah itu singular, melingkar, Berupa siklus. Karena itulah leluhur-leluhur kita mengabadikan nilai-nilai dan pesan-pesan didalam sebuah prasasti/relif atau menanamkannya kedalam sebuah cerita rakyat/legenda yang tak lain tak bukan itu semua adalah pesan untuk kita agar mendatabburinya guna pasang kuda-kuda dan mempresisikan langkah sesuai proporsi yang tepat.

PESAN FILOSOFIS

Pemutaran Gunung Mandoro/Mandaragiri adalah mitologi tentang pencarian Tirta Amerta yaitu air suci kehidupan abadi.

Kisah pemutaran Gunung Mandoro ini dimulai dari berita bahwa Amertha yang selama ini dicari-cari oleh para dewata dan raksasa berada di dasar lautan susu Ksirarnawa yang maha luas dan maha dalam.

Proses dimulai dengan pematahan Gunung Mandoro dari dasarnya yang dilakukan oleh Naga Anantabhoga. Selanjutnya Naga Basuki mengambil peran sebagai “tali” yang membelit patahan Gunung Mandoro yang akan dijadikan sebagai “tongkat raksasa” pengaduk Ksirarnawa. Dan kisah itupun bermula.

Mulut Naga Basuki selalu mengeluarkan api. Artinya dia adalah potensi bahaya tapi bisa membuat bahagia asalkan kita bisa menjinakkan. Ekornya dipegang Raksasa. Tarik menarik antara Kepala Naga dan Raksasa bisa memutar gilingan Gunung Mandoro guna memuncratkan Tirta Amerta.

Naga adalah representasi dari hegemoni Cina. Raksasa adalah representasi dari hegemoni Amerika dimana dua kekuatan besar ini saling bertarung memperebutkan dominasi di Indonesia.

Yin & Yang ditangan dewa Indra/kesatria adalah pesan kepada kita untuk menjaga keseimbangan agar tidak terseret arus kuat dan dinamika framing dari dua kontestasi Naga dan Raksasa sebagai dua kekuatan arus besar.

Gunung Mandoro bisa ambles menghujam kedalam karena ditekan dan diduduki Dewa Indra ini adalah simbol Spirit Perang/jihad. Tapi juga Gunung Mandoro tidak ambles karena ditahan Dewa Wisnu selaku Pamomong (Penyu)

Tirta Amerta kami menyebutnya demikian. Ia adalah suatu kata yang holistik. Ia bisa berarti Air Kehidupan, Amal Jariyah, Amal Keabadian, kebaikan yang bersifat masif. Dan inilah yang mewarnai dalam kisah besar dimana para dewa dan kesatria bercita-cita untuk mendapatkannya. Dan kisah itu berkaitan erat dengan Gunung Mandoro. Sebuah kisah abadi yang tertulis di situs Candi Cetho Karanganyar Jawa Tengah. Setidaknya kita selaku elemen anak bangsa berusaha untuk mendapatkan Tirta Amerta sebagai sumbangsih kita terhadap negeri yang kita cintai ini.

Ingat, semua peristiwa itu terjadi didalam Segitiga Merah. Sebuah tanda Waspada atau kehati-hatian. Bila mau mengelaborasi lebih dalam, Segitiga merah itu merupakan konsep transendental. Sesuatu yang melampaui pemahaman terhadap pengalaman biasa dan penjelasan ilmiah dimana Allah SWT menjadi faktor primer dalam mengupayakan solusi atas segala permasalahan.

Mandoro (Mandiri dan Gotong-Royong) adalah pesan yang ingin leluhur sampaikan. Dan inilah yang hilang selama ini.

Di tengah orang-orang berlomba saling menjatuhkan, kita belajar untuk bangun dan saling membangunkan

Di antara budaya masyarakat saling sikat, saling lumat dan saling memusnahkan, kita bersama saling membangkitkan, saling topang saling menguatkan.

Inilah gelombang anomali zaman. MANDORO

2 gagasan untuk “KAOS MANDORO

  • Agustus 19, 2019 pukul 10:32 pm
    Permalink

    Sarujuk., salam kenal admin dan dulur-dulur.,
    Mandoro = Mandiri dan Gotong-Royong.

    Balas
    • September 2, 2019 pukul 3:11 pm
      Permalink

      ngehh salam kenal dulur, salam salim

      Balas

Tinggalkan Balasan ke sekolahwarga Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *