Buku Tanjidor

£5.00

Category:

Description

Tanjidor (umum disebut Jidor saja) merupakan sala-satu kesenian tradisional yang hampir selalu memiliki penggemar berat di daerah mana kesenian ini disuguhkan. Kesenian tradisional rakyat yang menurut sebagian besar pengamat dikenalkan oleh penjajah Belanda sekitar abad 16 M ini, telah mengalami sekian bentuk perubahan, baik alat musik utama, komposisi pertunjukan maupun guna bahkan sejak namanya dikenalkan.
Ada satu pendapat menyebut kata Tanjidor berakar dari bahasa Portugis Tanger yang berarti musik berdawai (mandolin-violin), sementara kita yang dimainkan oleh Betawi lebih banyak menggunakan alat musik tiup (klarinet-saxophone). Penulis kira kalau pembaca mendengar kata Tanjidor, mungkin yang pertama kali muncul di kepala tak lain seongok alat musik pukul, apalagi pembaca berasal dari Jawa Timur. Di wilayah ini suku kata “Dor” dekat dengan bunyi yang dihasilkan pukulan.
Lembor-Brondong-Lamongan sala-satu desa tempat kesenian tradisional Tanjidor tumbuh, berkembang dan memberi pengaruh signifikan bagi kebudayaan komunitas muslim di sekitarnya. Riset kualitatif penulis selama sepuluh bulan lebih dengan pendekatan Etno-histori, dibantu kerangka teori continuity and change serta dikuatkan data-data arkeologis menunjukkan bahwa, kesenian disatu desa yang membujur di kaki bukit Rahtawu ini memiliki jaringan cukup kuat dengan pegiat Tanjidor di daerah penyebaran Tanjidor lainnya di pesisir timur Laut Jawa, baik dominasi alat musik (pukul-tabuh), seni vokal, seni pertunjukan maupun peran sebagai media dakwah ajaran Islam dengan ajakan pertama bersyukur atas karunia tanpa batas yang dilimpahkan Allah SWT, mengenal kemudian meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW.
Kesenian Tanjidor di desa Lembor-Brondong-Lamongan setidaknya memiliki tiga unsur kesenian yang saling berkait-menguatkan, seni musik instrumental di dominasi alat musik tabuh (Rebana-Gendang), seni musik vokal syair Barzanji-berbahasa Jawa (Damar Muncar, Ayup-ayup, Semarangan), seni pertunjukan pencak silat (kembangan Jawa-Kuntulan), serta seni pertunjukan sulap yang bisa jadi masuk dalam aliran sulap Close Up-Mentalism-Fakir magic. Menariknya masing-masing unsur seni tersebut mendapat porsi perhatian yang sama besar dari para pegiat.
Lumrahnya seni musik, Tanjidor mengandung takdir bisa dinikmati berbagai usia, menembus lapisan kelas sosial. Sebagai seni musik pertunjukan, Tanjidor bisa disuguhkan mulai dari jalan raya sampai karpet penguasa, serta berkali-kali dibuktikan bisa menyatu-berpadu dengan kesenian lainnya.
Maksud lain lahirnya buku ini adalah usaha sederhana penulis menunjukkan kemampuan adaptasi dan akulturasi budaya tingkat tinggi para pemain Tanjidor desa Lembor-Brondong-Lamongan. Bila kajian ini kita letakkan untuk wilayah Lamongan secara lebih luas, penulis meyakini jika kemampuan adiluhung itu tidak hanya dimiliki pemain-pegiat Tanjidor di desa Lembor, akan tetapi juga pemain dari desa lain di Lamongan, Sendang Agung-Laren-Lamongan, Sedayu Lawas-Brondong-Lamongan serta desa-desa tempat penyebaran lainnya di sekujur wilyah Kabupaten Lamongan.

Buku Tanjidor

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Buku Tanjidor”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *