Hari Kamis, 19 September 2019 Sekolah Warga Paradesa Kroya Cilacap, kedatangan Tamu Istimewa rombongan dari Jogja yang juga Istimewa; Mas Harianto, Mas Padhangdjiwa Nur Rokhiem dan Mas Teyenk.

REHAT
Sambil merehatkan badan sejenak setelah menempuh perjalanan dari Jogja dan singgah di Kebumen, kopi kental hangat buket mblaketaket khas Warkop Paradesa, menemani obrolan hangat pada suasana siang yang cukup terik dengan semilir angin dari Pantai Indah Widarapayung di sebelah selatan Warkop.

Pada hari kamis yang manis itu Pak Onos Sebagai Huma dan Pamong dari Sekolah Warga Paradesa mengabarkan kepada sedulur-sedulur penggiat Sekolah Warga di Kroya dan sekitarnya untuk melingkar bersama saling bertegur sapa dan berdiskusi mengenai gagasan dan cita-cita mulia membentuk dan membangun Kampung Mandoro.

Tentu ini menjadi kabar baik bagi sedulur-sedulur penggiat Sekolah Warga Paradesa. Satu per satu atau ada yang datang berbarengan karena berasal dari kampung yang berdekatan, berdatangan dan segera beramah-tamah dan duduk bersama memulai bincang-bincang ringan namun berisi, berisi tetapi tanpa “meden-medeni” melangit namun pijakannya harus terus membumi.

VISI KAMPUNG MANDORO

Gagasan mengenai Kampung Mandoro beberapa pekan sebelumnya sudah menjadi “bunga hati” dan “kembang fikiran” dari Pak Onos yang memang mumpuni dalam membaca peluang dan cukup arif menangkap gelombang potensi yang dimiliki oleh sedulur-sedulur Sekolah Warga Paradesa. Bervariasinya latar belakang keluarga, pekerjaan, hobi, bakat dan minat serta momentum kondisi zaman yang dinamis inilah sebetulnya yang menelurkan gagasan tersebut.

Setahap demi setahap kopi dan singkong goreng crispy “menu spesial favorit di Warkop Paradesa” dihidangkan bersama mengiringi dan membuka jendela dan cakrawala para sedulur yang banyak diantara mereka memang baru pertama berdiskusi bersama. Dalam muqodimah yang disampaikan Mas Harianto sebagai “Pancer” dalam diskusi malam tersebut yang sebetulnya dapat kita sebut sebagai brain-storming atau sangat layak menjadi soul-healing sebab suasana kegembiraan berpadu dengan kehidmatan dengan tetap memijakkan arah berfikir dan bersikap ‘Sinau Bareng’ mentaati Gusti Alloh SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Tanpa terasa sedulur-sedulur mendapat banyak pengetahuan dan memperluas cakrawala dari apa gang disampaikan dengan bahasa yang simpel, lugas namun sarat akan makna dalam balutan keriangan sesekali bercanda yang mengendurkan ketegangan otot dan syaraf setelah berbagai beban keseharian yang seolah tanpa ada habisnya.

Beban-beban tersebutlah kadang tanpa sadar membelenggu kita, sehingga berat leher dan pundak kita apalagi untuk menoleh pada sedulur, tetangga atau teman yang sama-sama menanggung beban hidup yang tak kalah berat. Tangan-tangan kita kaki-kaki pun tak juga bergerak beranjak saling menoleh, mengusap, melangkah membantu sesama. Jerat materialisme, konsumtivitisme semakin mempertebal kacamata kuda di kehidupan ini.

Dari Sekolah Warga kita belajar berbagi, hingga tercetus sebuah ide yang diilhami realita bahwa kenyataannya semua manusia pasti memiliki kebutuhan hidup. Baik kebutuhan yang sifatnya primer, sekunder sampai yang tersier, tetapi kembali lagi, alih-alih semakin bijaknya manusia memetakan kebutuhan-kebutuhan tersebut malah semakin tercampur-aduk mana yang tersier menjadi primer, mana yang sekunder bahkan primer tertindih bukan hanya saja oleh kebutuhan individu tetapi bahkan mawut oleh banyak hal-hal eksternal.

Problem yang membawa kegelisahan tersebut, bila kita peta-kan adalah tidak berimbangnya “pemasukan atau sumber penghasilan dengan pengeluaran untuk pemenuhan konsumsi kebutuhan hidup”. Solusi awal seperti yang dipaparkan oleh Mas Har adalah, “Menambah Jumlah Pemasukan dan atau Mengurangi Jumlah Pengeluaran”. Sehingga utamanya kita mampu mengurangi pembengkakan pengeluaran, memenuhi kebutuhan syukur dapat memiliki kelebihan* untuk kita saling berbagi dan dapat meningkatkan manfaat dan nilai hidup kita.
Mandoro yang dimaksudkan dengan mandiri dan gotong royong, kita usahakan untuk dilaksanakan sedapat mungkin.

Dicontohkan oleh Mas Har, secara mudah bila seseorang membeli barang satuan akan mendapatkan HET (harga eceran tertinggi), tetapi apabila kita membeli dalam jumlah yang banyak maka harga lebih murah. Demikian juga beras sebagai salah satu bahan makanan pokok, bila dapat kita lakukan penanaman secara berkelompok dan hasilnya dibeli oleh anggota kelompok tersebut, maka akan terasa jauh lebih bermanfaat dan murah. Bermanfaat karena dalam pembelian maupun penanaman secara berkelompok akan terjadi saling kerjasama antar anggota saling belajar dan memahami kepribadian hingga cara-cara yang efektif serta efisien dalam pelaksanaan kerjasama.


Titik tumpu Kampung Mandoro adalah potensi-potensi maupun produk-produk pribadi, keluarga, anggota yang mandiri namun bekerjasama dalam satu arena bersama. Tujuan baiknya tentu tidak hanya output keuntungan material, sebagai arena bersama diharapkan bermanfaat untuk multi agenda, salah satunya memberi ruang potensi-potensi produksi, potensi-potensi seni, mendukung kegiatan sekolah warga dan hal-hal lain.


Dalam hal potensi Musik, Warkop Paradesa sudah melahirkan musisi-musisi lokal kroya, cilacap, dan sekitarnya. Dua event yang terlaksana “Ngabukustik & 1st Anniversary Warkop Paradesa” tentu semakin menggugah para insan musik di sini. Mas Har dan Mas Padhangjiwo banyak memberikan pengayaan pemahaman filosofif dan historis. Musik sebagai seni mengumpulkan bunyi, nada, dan irama diharmoniskan sedemikian rupa sehingga melodi yang mengalun dapat menghidupkan dan merambatkan gelombang indah dalam alunan nuansa kebersatuan dan keluhuran, karena di sana tidak terjadi tumpang tindih antar alat musik, nada dan saling tabrak antara para personil dalam suatu kelompok, serta persembahan karya-karyanya yang dapat menyesuaikan selera, waktu dan tempat, terkhusus musik sebagai media perekat kecintaan antar sesama dan sebagai wujud ketundukan dalam bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.


Seperti halnya pola pengelolaan dalam arena Kampung Mandoro, yang tetap berpegang teguh kepada kecintaan rasa seduluran dalam membangun dan merawat secara sepenuh hati. Dalam hal amal usaha yang dimiliki masing-masing anggota; ada 3 Hal yang mutlak harus dijadikan patokan:

Pertama: Siapa pemilik usaha & modalnya,

Kedua: Siapa Pengelolanya,

Ketiga: Bagaimana Hasil Usaha Tersebug Dibagi Adil.


Hal ini semata-mata untuk menghindari rasa iri dan saling berebut keuntungan ~ Serta menjaga keharmonisan hubungan paseduluran
Sehubungan dengan kuatnya kemandirian keluarga-keluarga yang Mandoro, terdapat suatu hal yang sangat penting bahkan dalam kehidupan kita bersam, yaitu akhlak (akhlaqul karimah) budi pekerti yang baik. Budi pekerti, akhlaq yang baik pada diri seseorang tak lepas dari hulu, yaitu orang tua. Begini Mas Har menjelaskan betapa akhlaq sebagai hilir seseorang tidak dapat terlepas dari urutan hulu berupa nafkah. Daya, energi atau potensi hidup yang dimiliki seseorang sehingga hasil daya-gunanya berupa akhlaq, berasal dari darah yang menyatu dengan daging, darah tersebut berasal dari makanan yang diserap sari-pati zat-zatnya. Makanan-makanan tersebut berasal dari hasil kerja, kinerja berupa beragam cara tanam menanam, bekerja dan mendapat upah sehingga digunakan untuk membeli bahan atau makanan sebagai kebutuhan primer. Usia anak-anak sebagai waktu yang krusial dalam masa tumbuh kembang jiwa dan raga, penanaman nilai-nilai luhur dalam keluarga, lingkungan sekolah serta adaptasi terhadap bermacam kondisi alam dan aktivitas sosial sangat menentukan untuk masa remaja hingga dewasa. Di keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, tempat kerja hingga masyarakat suatu bangsa dan dunia.
Di sanalah letak tahapan terbentuknya akhlaqul karimah, makanan serta sumber makanan, terlebih cara mencari makanan atau sumber makanan, secara lebih luas yaitu makanan bagi jiwa dan raga.
Hal ini asal-muasal terciptanya seorang Insan Kamil. Maka rencana mulia Kampung Mandoro tidak akan main-main dalam berjuang secara pribadi dan bersama-sama secara jujur mulai dari niat, fikiran, kata-kata maupun perbuatan. Menggunakan tata cara yang baik, berani mengakui kesalahan bila melakukan salah dan secara arif memaafkan dan mengambil pelajaran maupun hikmah agar tidak berulang adanya berbagai kekeliruan.
Akhirnya diskusi pra-aktualisasi Kampung Mandoro Kroya Cilacap, dicukupkan dengan diberikan pesan agar selanjutnya dilaksanakan Work Shop teknis pelaksanaan Kampung Mandoro.
Akhirnya bersama-sama kita petik pelajaran mengenai gotong-royong atau kerja bakti yang akhir-akhir ini mengalami reduksi dan penyempitan makna. Yang sejatinya dilaksanakan untuk meringankan beban karena dikerjakan bersama-sama, dan meringankan beban saudara kita yang memang memerlukan, menjadi kerja bersama karena memiliki kepentingan yang sama terlebih mengalahkan fihak lain, atau bekerja bersama-sama demi suatu hal yang tidak terlalu memiliki prioritas utama atau primer dalam kehidupan.

Dari Sekolah Warga Paradesa
Warkop Paradesa
Kroya Cilacap
Mengucapkan Terimakasih Kepada Semua Sedulur Yang Hadir
Terimakasih & Penghargaan Bagi Mas Harianto atas Spirit, Pencerahan & Pengasuhannya
Mas Padhangjiwo Nur Rokhim & Mas Teyenk yang menambahkan kami wawasan dan warna-warna baru kehidupan.
Salam Seduluran
Seduluran Selawase Tandang Saktuntase

Wah Dan
Penggiat SW Paradesa

Paradesa Nyicil mbangun Kampung Mandoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *