Dari GELAR -1
(Terkhusus untuk Para Pegiat)

Tak terhitung sanjungan, ‘Acungan Jempol’ dan apresiasi dari banyak mulut juga tangan datang kepada kita. Maka, selaku yang lebih tua, saya mengajak kepada kita semua untuk berwaspada. yang ‘manis’ memang patut disyukuri, tapi setelah itu, ‘ujiannya’ justru lebih harus kita waspadai. terutama dalam masalah Hati.

“Ini (oleh/karena) Saya” sangat wajib dihindari. karena memang ‘Bazar’ pangan lokal sehat olahan Ibu-Ibu, senam sehat, ‘pepelakan’, pemeriksaan kesehatan gratis, kaulinan, anak-anak bermain dan belajar, latihan akting juga bermusik, dan apapun yang ada dalam acara GELAR Warga Mandiri dan Gotong Royong senyatanya tak akan pernah bisa kita lakukan sendiri. maka celakalah bagi kita jika merasa ini adalah kita yang punya karya. lalu menafikan peran sesama lainnya.

Untuk membantu agar kita terhindar dari ‘Gumedè‘ dan ‘Umaing‘, beberapa hal yang harus diingat Dari GELAR; “jangan meremehkan sekecil apapun peran” kata Dosen ‘Gila’ sang ‘Pendakwah’ jalanan. semangat gerak Ibu-ibu yang Luar biasa. antusiasnya Anak-anak. bapak-bapak pendukung. Otentisitas ‘Syeikh’ Aktor, Partner dan artistiknya. Merdekanya Sang ‘Dewa’ Musik dan ketulusan ‘jamaah’nya.

Tetamu agung dari Jakarta terutama si ‘Anak Emas’* yang hadir membawa pesan duduluran yang teramat dalam. juga Kawan lama yg hadir meski tanpa sehelai Undangan dan bermodal persaudaraan. dan tak lupa yang luar biasa, mereka yang kesehariannya berpakaian ‘besi’, tapi mengambil peran dalam acara, menyatu dengan Warga. Lalu, dimana Kita? me-Apa?

Kita bersama mereka, bersama-sama, membersamai, dibersamai. kita belajar kepada mereka, mempelajari, juga membuka diri untuk dipelajari. kita bersaudara dengan mereka, mempersaudarai, mempersaudarakan, juga bersedia dipersaudarakan. maka, apapun kesempatannya, “manggih bungah kupanggih” harus selalu menjadi upaya untuk diinternalisasikan ke dalam-luar diri.

Sehingga, semelambung apapun kita disanjung –sebagaimana yang Aa Kyai dari Jampang sering katakan–, kita jawab saja, kita hanya sedang menjalankan kewajaran hidup sebagai manusia. manusia yang berkesadaran bahwa tidak ada dia yang bisa hidup sendiri dan melakukan segalanya juga sendiri, tak akan pernah bisa. dan tak akan ada satu ‘bidang’pun yang tak berkaitan dengan yang lainnya. Manusia yang sedang berupaya untuk membangun duduluran salawasna, sebagai modal ‘tandur’ dan tandang satuntasna.

Terakhir, kita haturkan Nuhun kepada semuanya, kepada yang tampak, Zhohir dan kepada yang tak nampak, tetapi selalu Ada, terasa.

Ciamis, 15 Desember 2019
Deni Weje
Pamong Sakola Motekar

**Puisi Si ‘Anak Emas’: https://youtu.be/wEMgNIsM03E

Kabar dari Gelar Mandoro Motekar Ciamis bag. 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *