Oleh : haryadi wiryo
Kita awali kelas kemarin dg menyampaikan hari hari Allah yg ada dibulan Muharam , yaitu : Asyuro . Asyuro adalah peristiwa tragis terbunuhnya cucunda Rosul saw yang bernama al Husain di sebuah tempat yg kita kenal sebagai padang Karbala .
Oleh sebagian kaum muslimin peristiwa ini diperingati setiap tahun dengan mengadakan majelis majelis duka cita dg mengisahkan syahidnya al Husain ditangan org org yg mengaku sbg umat kakeknya .
Namun tidak semua setuju . Sebagian kaum muslimin melarang diperingatinya Asyuro . Bukan hanya melarang , mrk bahkan menuduh kelompok yg memperingati Asyuro sbg ahli bid ‘ ah dan aliran sesat .
Kita bebas memilih utk mengikuti pendapat yg pertama ataupun pendapat kedua .
Setelah secara singkat membicarakan peristiwa di Karbala , kita masuk ke ” Hijrah Sufistik “.

Hijrah bisa diartikan pindah dari satu tempat ( wilayah ) menuju wilayah yg lain . Contohnya hijrahnya Rosul saw dan para sahabat dari Mekah ke Madinah . Ini kita sebut hijrah fisik .
Selain hijrah fisik ada hijrah jenis yg lain yaitu hijrah batiniah . Contohnya meninggalkan maksiat menuju taat .

Didalam tasawuf kita mengenal adanya maqom maqom spiritual , yaitu : Taubat , sabar , zuhud , wara , ridho , mahabbah dst . Nah , yang kita maksud dg hijrah sufistik adalah perpindahan dari satu maqom ke maqom yg berikutnya . Misalnya dari maqom taubat menuju ke maqom sabar . Dari maqom sabar ke maqom zuhud dst .
Kenapa tidak kita katakan hijrah sufi , tetapi hijrah sufistik ? . Karena sebetulnya kita bukan sufi beneran , tetapi hanya berpura pura menjadi sufi , dg harapan suatu saat nanti kita menjadi sufi betulan .

Kembali ke maqom maqom dalam tasawuf . Maqom pertama menurut Imam Ghozali , dan sebagian besar sufi yg lain adalah taubat . Dosa kita pasti sangat banyak , kecuali yg tidak merasa . Untuk bertaubat dari semua dosa pasti terasa sangat berat , karena itu pada pertemuan kemarin kita hanya membahas dua jenis dosa yakni :

  • Menilai sesuatu dg standar ganda .
  • Tidak menunaikan hak dari orang yg memiliki hak terhadap kita .

Disadari atau tidak , dan diakui ataupun tidak kita acap kali menggunakan standar ganda dlm menilai sesuatu . Misalnya ketika kita menyaksikan habib ( dzuriyat Nabi saw ) yang kita jadikan sebagai pemimpin jamaah dihina org lain , kita mati matian membelanya dg argumentasi ” Seburuk apapun seorang habib , kita tidak boleh menghina atau melecehkannya , sebab mereka adalah keturunan Nabi kita “. Tetapi ketika habib tsb tidak sealiran dg kita , tiba tiba kita lupa dg argumentasi tadi .

Contoh yang lain adalah , banyak org berbondong bondong menghadiri haul para habib untuk bertabaruk atau mengambil berkah . Tentu saja ini hal yg bagus , perlu dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kita kepada Rosulullah saw . Yang jadi aneh adalah , org org yg berbondong bondong memperingati haul para habib ini membenci , dan menyesatkan , dan melarang diadakanya haul bagi habibnya para habib . Bukankah ini standar ganda yg harus kita taubat dari padanya ?

Siapa habibnya para habib ?. Beliau adalah Habib al Husain bin Ali bin Abi Thalib ra .

KELAS ISLAM TEMATIK – HIJRAH SUFISTIK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *