Noah Ark.

Geliat karantina, isolasi mandiri dan Work From Home sudah memasuki hari ke – 60 sejak ditetapkannya Wabah ini sebagai gejala luar biasa. Banyak sekali perubahan yang terjadi, tentunya seperti sebuah progresivitas manusia bahwa kita tidak akan pernah sama.

Rentetan kejadian demi kejadian karena tiba-tibanya wabah ini datang berbanding lurus dengan segala bentuk ketidaksiapan masyarakat dan pemerintah. Segala lini terpaksa harus berhenti berputar dan membawa dampak. Wabah ini membawa simulasi tersendiri akan bentuk baru peradaban yang harus berbasis daring.

Betapa tidak, kita tiba-tiba takut keluar rumah, takut bersosialisasi, takut berjabat tangan, takut bercengkrama, dan yang terakhir justru memberi efek psikologis berat seperti kemunculan maling, otoritarian sipil sampai dengan saling curiga satu sama lain karena wabah yang lebih kecil dari debu.

Selain banyak berita buruk soal transparansi data, kerumitan dan blundernya kebijakan pemerintah, penolakan jenazah korban, konflik kecil-kecil di kampung, hingga stafsus milenial yang tak berguna itu menghiasi headline berita, tetapi apa kabar baiknya?

Sepanjang yang saya amati dari beragam kejadian di dunia maupun di Indonesia dengan adanya virus ini Kita dipaksa untuk Mandiri dan Bergotong-royong. Tentu sudah sangat familiar kan ditelinga teman-teman GERBANG maupun Sekolah Warga, ya, betul ini tujuan besar kita selama ini. Mandoro.

Pertama tentu Kemandirian, liat perubahan akhir-akhir ini banyak kawan-kawan mulai bercocok tanam, mulai belajar sendiri Hidroponik, mulai belajar berkreasi dirumah, mencoba hal-hal baru yang selama ini tidak pernah mereka coba. Lalu ilmu selanjutnya adalah bertahan dalam kemandirian itu sendiri.

Temu Nasional lalu bahkan sebelum krisis wabah mendera kita sudah membawa tentang Keluarga yang kuat dan menguatkan. Tema besar ini kemudian lebih cepat akselerasinya ketika wabah ini mendera, tiap-tiap keluarga sedulur GERBANG kini praktek bagaimana menjadi kuat tidak hanya secara finansial, tapi juga psikis dan keimanan. Bagaimana menjadi suami, istri, anak yang baik untuk keluarga masing-masing, menjadi ibu rumah tangga, pekerja dan Imam dirumah tentu dalam banyak porsi lain ketika wabah, kita banyak diam dirumah lantas diuji. Untuk para jomblo tentu ini ujian yang jauh lebih berat, hehe. Tapi saya tidak mau membahas lebih lanjut.

Progresi selanjutnya tentu adalah Gotong-royong, dalam hal wabah ini sekaliber siapapun ahli didunia tentu akan setuju bahwa gotong-royong adalah kunci utama menyelesaikan wabah ini. Transparansi data internasional, saling tukar informasi, saling bertukar solusi dan lebih lanjut tentu adalah gerakan riil dalam mengatasi wabah ini, apapun langkah yang ditempuh oleh sedulur GERBANG. Intinya kita bekerja bersama, menelaah dan mensyukuri bersama-sama sebagai sebuah ujian, cobaan atau malah berkah.

Akhira selamat terus menerus mengasah kemandirian dan gotong-royong kepada lingkar-lingkaran disekitarmu yang bisa dijangkau, juga terus mlaku bareng untuk terus waspada apapun yang dialami teman-teman.

Nanti setelah wabah ini kita akan bertemu lagi, secepatnya,
Selamat berpuasa menahan lapar dan haus, sekaligus menahan diri untuk bertemu karena diantara jarak perpisahan disitu rindu-rindu bersemayam.

Tetaplah hidup, dan teruslah berbahagia lur…
– Bersambung.

Surakarta, 03 Maret 2020
Indra Agusta

Dipaksa Mandiri dan Gotong-Royong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *