Saya termasuk peserta TENAS yang datang dengan ekspektasi liar. Jauh hari sebelum Tenas ini saya membayangkan obrolan dan diskusi di forum bakalan berputar di wilayah arus dan strategi gerakan seperti bagaimana caranya mengagalkan PEMILU 2024 dan hal-hal terkait itu.

Harapan itu pupus ketika saya sampai di lokasi dan saya mengetahui Tenas kali ini kedatangan tamu mas Karim. Pejabat BAPPENAS dan pegiat simpul Maiyah Mafaza Amsterdam, Belanda. Dimana mas Karim sedang melakukan riset tentang Peran Non-Negara Berlandas Agama di beberapa negara termasuk Indonesia. Saya meyakini diantara nama-nama yang masuk dalam database riset beliau tentang Peran Non-Negara Berlandas Agama ini, nama Gerbang muncul.

Jujur, dalam dinamika perjalanan Gerbang sampai saat ini, saya masih mencita-citakan Satu Juta Titik Koordinasi seperti apa yang telah disampaikan mas Tri dalam presentasinya saat Tenas pertama Gerbang di Solo. Dan saya mendapati Sekolah Warga adalah langkah yang paling relevan untuk mencapai itu. Hanya saja realisasinya tidaklah mudah. Bukan di pengadaan sarana dan prasarana Sekolah Warganya yang susah, tapi di kesadaran masyarakat kita.

Pemahaman ini saya dapati saat rapat komisi Sekolah Warga, kang Deni Weje selaku pimpinan rapat mengajak dulur-dulur hanya berdiskusi untuk memetakan pola kesalahan sekolah mainstream. Kesalahan di sistemnya, lembaganya maupun gurunya. Di rapat ini saya semakin paham bahwa kesadaran kolektif inilah yang urgent. Bukan difasilitas Sekolah Warganya. Karena semilitan-militannya kita selaku pegiat Sekolah Warga, bila kesadaran kolektif ini tidak terbangun maka yang terjadi adalah kecewa seperti yang dialami sebagian besar pegiatnya. Analogi “Sekolah Gajah” dari pak Toto Rahardjo setidaknya perlu disosialisasikan untuk membantu berpikir dalam memetakan pola kesalahan industri sekolah mainstream ini.

Sungguh ironis bila selaku anak buah kapal yang melintasi samudera tidak tahu menahu bila kapalnya sedang mengalami kebocoran. Inilah yang terjadi di masyarakat kita. Ironis memang, tapi belum tentu juga anak buah kapal itu akan tewas tenggelam. Bisa jadi Allah menyelamatkan mereka seperti halnya Allah menyelamatkan Yunus.

Ada beberapa hal yang saya catat dari presentasi kang Yudia tentang teori yang harus terdeskripsi dengan jelas. Bahwa untuk mencapai tujuan tidak boleh menggunakan asumsi. Harus jelas perhitungan matematisnya.

Selanjutnya, berbeda dengan kang Yudia. Saya mencatat dipemaparan mas Karim bahwa ada faktor-faktor transenden bagi seseorang untuk bisa mencapai target dan tujuannya. Perhitungan matematis bukan hal perlu. Yang diperlukan adalah kepekaan. Kepekaan dalam berbagai hal, baik terhadap apa yang dihadapannya sampai urusan makanan yang masuk ke perut. Di cerita beliau yang panjang saya hanya menangkap itu. Yakni, seseorang dengan faktor transenden cenderung mengalami keberuntungan.

Frame yang berbeda dari kedua narasumber diatas seperti mekanisme kerja Gas dan Kopling. Gas berfungsi untuk mendorong putaran mesin ke transmisi sedangkan Kopling berfungsi untuk meneruskan atau memutuskannya. Dinamika inilah yang saya lihat dalam perjalanan Gerbang 3 tahun ini. Dan itu indah.

Saat saya pertama kali belajar setir mobil, pembimbing saya menekankan saya untuk belajar menyeimbangkan Gas dan Kopling dulu sebelum ke tahapan-tahapan selanjutnya. Guru saya berkata “bila kamu sudah terbiasa dengan Gas-Kopling ini maka semuanya akan mudah dan kamu bisa melajukan mobil kemana saja tujuanmu”.

Di tiga tahun perjalanan Gerbang ini saya melihat ada tarian indah seperti mekanisme kerja mesin antara Gas – Kopling ini. Dan seperti halnya mobil, semoga Gerbang dapat melaju mencapai tujuan visi misi Deklarasi Anak Bangsa seperti yang telah dicita-citakan.

Gresik, 11 Maret 2020

CATATAN TENAS VIII | Kang Saris, Gresik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *