Tentang Ilham

Ditengah-tengah kerumunan keluarga kami terlihat anak usia belasan. Baru pertama saya melihat dia. Fisiknya sama, tapi begitu menggerakkan tangan, kaki, kepala ternyata banyak hal yang berbeda(penyandang tuna daksa). Menperkenalkan diri bernama Ilham Imaduddin, terlalu mudah ditebak kalau Ilham datang ke kerumunan kami selayaknya hidayah.

Dengan “kecacatan” Ilham, pasti ada hal lain, yang Allah ingin sampaikan. Acara sudah selesai, sesi perpisahan dengan saling bersalaman. Berlari saya mengejar Ilham yang berusaha ikut berkeliling bersalaman seperti lainnya. Ingin saya lebay mencium tangan hingga kaki Ilham, tapi takut “dosa”.
Untuk berdiri saja Ilham harus dibantu oleh seseorang apalagi harus berjalan, tentu semakin “repot”. Saya minta Ilham diam berdiri, dan yang lainnya saja yang menyalami. Teman yang memapah Ilham kebetulan mempunyai nama yang saya dengan saya. Mas Agung berada disamping kanan dan saya di samping kiri Ilham.

Selesai acara, ternyata Ilham tidak langsung pulang Jakarta, karena esok (malam ini) Ilham ingin datang ke PadhangmBulan. Kebetulan saya juga begitu. Jadilah saya lebih banyak berkenalan dengan Ilham. Ketika kita yang menyebut diri normal, dengan kelainan Ilham kita menyebut itu tidak Normal. Hal ini berlaku dalam setiap segmen hidup.
Cara berfikir normal, hidup normal seolah itulah kewajaran dan menganggap Ilham itu ketidak wajaran, bahkan dianggap hingga dinyinyiri sebagai cacat, lebih keji lagi sampah.

Kita sering terjebak bahwa kenormalan akan lahir dari kenormalan, lupa bahwa Tuhan punya hak semau-maunya. “Ilham Imadudin” dikirim hadir, entah bagaimana caranya. Pintunya bisa dari manapun, termasuk dari kecacatan bahkan sampah, yang dianggap menjijikan.

Selamat datang Ilham Imadudin, semoga kami, kita semakin jernih membaca petunjuk-Mu. Hingga Engkau percaya kami layak.

Agung T.
Tambak Beras, 9 Maret 2020

CATATAN TENAS VIII | Agung Trilaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *