Oleh : Indra Agusta

Mengenal hasil karya tentu tak akan lepas dari proses dan lelaku manusia itu sendiri. Kali ini di Workshop Musik Bambu Sekolah Warga menghadirkan seorang yang ahli di bidang membuat musik Sunda dengan bahan bambu. Kang Bilal Karinding Bitungers.

Dok : Naufal

Nampaknya memang harus dituliskan secara serius apa yang menjadi latar belakang, bagaimana masa lalu membentuk karakter manusia, bagaimana perjalanan hidup manusia adalah segala hal yang ditolak dan diamininya dalam jangka waktu tertentu, hingga Tuhan menitahkan untuk merawatnya dan menjaganya.

Dihari kedua workshop ini sembari berkelakar, ada nilai-nilai yang harus saya tuliskan khusus untuk hari ini. Bahwa perjalanan seseorang itu selalu menarik untuk dikulik, kita bisa memujinya kini namun ketika mereka mencecap pahitnya banyak orang tak pernah memperhatikan proses tumbuhnya manusia menjadi manusia itu sendiri.

BILAL, pemuda yang diijinkan lahir dari rahim keluarga yang luar biasa. Keluarga yang tak seharmonis dan senormal yang orang umum temui. Situasi jaman, riuh keadaan, kerusakan dan kebobrokan berbagai banyak sistem akhirnya menjalar ke sudut-sudut kecil keluarga tempat Bilal dilahirkan. Konflik, pertengkaran hingga perpecahan dan berakhir perceraian. Siapa yang mau hidup demikian? Siapa yang mau dilahirkan dalam keadaan demikian?

Dok : Indra A.

Seperti menjadi garis sebidang yang membawa Bilal pada ketidakjelasan hidup, pada kegamangan, juga tentu kesepian dan kesendiriannya. Sekolah formal lalu berujung berhenti di Kelas 2 SD. Sekolah Hidup menantinya dikemudian hari. Pergi menjadi anak punk, hidup mengais makan dijalanan, penuh ketidakpastian dialami Bilal pasca perceraian. Drama demi drama menjadikan rumah bukan tempat yang indah untuk pulang. Akhirnya jalanan adalah tempat yang nyaman sebagai persembunyian.

Lalu berkenalan dengan Karinding, musik tradisional khas Sunda, mencoba membuat dan kemudian menjualnya, kemudian terus menerus merembet ke berbagai macam alat musik lainnya, Celempuk dll. Bilal kemudian menjadi dirinya ketika membuat musik leluhurnya, lalu orang-orang mengenalnya dengan Bilal Bitungers (Ada jenis bambu Petung kalau dijawa, di tatar sunda bambu ini disebut Bitung, karena bahan utama musik Sunda ini dari jenis bambu ini maka bilal dijuluki ini, karena sering menebang bambu jenis ini).

Dok : Indra A.

PEWARISAN TRADISI DAN BERTEMAN DENGAN ALAM

Menjadi diri sendiri itu yang saya tangkap, entah berapa tahun Bilal ini berpuasa dengan lakon hidupnya, tapi tetep menjalani apa yang sejatinya dirinya tanpa memperdulikan apa-apa yang dikatakan orang. Idealisme ini memang mahal rasanya apalagi ditahun-tahun ketika secara umum belum bisa menjadi apapun, belum “sukses” menurut pandangan umum secara material dan hedonistik. Tapi Bilal tetap tenang tetap menjalani hidupnya dengan penuh kewajaran, dengan serius.

Lalu keyakinan bahwa apa yang dia lakukan ini merupakan thandang dalam melestarikan, mewariskan apa yang sudah dibuat generasi sebelumnya. Bumi memberi bahannya, manusia mengolah dan meningkatkan nilai valuasinya. Bambu yang bisa menjadi apa saja, bisa menjadi sajian menarik dan menghasilkan bunyi-bunyi, serta menjadi ritual menuju Tuhan bagi masyarakat Sunda Wiwitan. Sangat menarik.

Apalagi dalam memilih-milah bambu, sama sekali sudah tidak menggunakan logika. Saya melihat bilal memejamkan matanya sebentar, membelai ruas bambu yang keliatannya diinginkan untuk ditebang, namun ternyata bukan berganti lagi ke bambu berikutnya. Entah apa persentuhan pribadi bilal secara rasa dengan mahkluk bernama tetumbuhan ini. Yang dia katakan sebenarnya singkat namun mengena, “biasanya kalo memetik bambu tidak sebanyak ini, bahkan terkadang sendiri untuk bahan-bahan yang kecil”. Fenomena ini saya bayangkan sendiri, bagaimana duduk-duduk dibawah rimbunan bambu lalu dalam sunyi serta angin yang meretakkan diam itu sendiri, Bilal sangat mungkin mendapatkan intimasi dirinya pada kedaulatan akan diri juga akan pengenalan langsung kepada Pencipta. Nilai-nilai ini kan mahal, karena tidak semua orang mencicipinya, bahkan seringkali juga banyak dicap kurang kerjaan.

Saya teringat dengan serial Vikings, ada tokoh pembuat perahu bernama Floki. Bilal ini mengingatkan saya pada tokoh tersebut, ketika memilih bahan Floki memantrai pohon, menciumnya, merasakan angin dan ketika prosesnya pun demikian penebangan sampai selesainya perahu Floki si bangsa Vikings ini tidak main-main dalam merumat alam. Berteman dengan Alam, jauh dari keserakahan untuk menebang terlalu banyak. Secukupnya.

TV, PUNDI REJEKI DAN MAWAS DIRI

Lalu Tuhan mengantarkan keadilan pada mahkluknya. Karinding menjadi jalan hidup Bilal selanjutnya membawa keseriusan pada sikap, rejeki, juga banyak pertemuan selanjutnya. Bilal sempat pula masuk salah satu TV swasta dan ini menjadi tonggak momentum keberhasilan Bilal di kampung, karena bagi masyarakat klasik masuk TV adalah parameter sukses.

Selain itu lewat karinding akhirnya juga mampu mengisi di berbagai kampus, SMA-SMK, forum-forum budaya. Akan sangat sulit dipercaya anak tidak lulus SD bisa menjadi maksimal hidupnya justru ketika Tuhan tidak mengijinkan segala sesuatu terjadi normal-normal saja. Kehancuran itu yang membawa letupan kebahagiaan, juga lecutan semangat untuk kawan-kawan lain agar terus memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan.

Ibunya kini menikah lagi, dan di media sosial Bilal dengan senang hati menerima Bapak barunya. Bilal juga sudah menikah dan mendapati cintanya sebagai kawan dalam mengarungi sisa hidupnya.

Apa yang sudah diterima, dihadapkannya kini tak mengubah Bilal menjadi sombong, dia tetap waspada dan mawas diri. Tetap santuy sangat bersahaja, dalam kesederhanaan tangan-tangannya yang terampil sedikit demi sedikit mengubah ruas bambu menjadi bambu yang berharga tinggi, bernilai ekspor juga selain itu tentu adalah fungsi spiritualitas dari alat musik itu sendiri, bagaimana musik mengantarkan jalma manusia pada Hakikat sebagai mahkluk itu sendiri.

Semoga keberkahan diluapkan pada semua persentuhannya dengan segala mahkluk.

Padepokan Padhangjiwa Nusantara
Turi, Sleman, Yogyakarta
12 Oktober 2019

BELAJAR OTENTISITAS KEPADA BILAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *